Monday, October 27, 2008

Emas.....emas.....emas...........

Artikel berikut ini dikutip dari blognya Ekonomi orang waras nya pak Imam Semar, sangat mencerahkan menurut saya :

EMAS MURAH DAN EMAS MAHAL – “MARK TO KAMBING”

Emas seperti halnya objek investasi lainnya seperti anthorium, ikan lohan, saham BUMI, bisa murah dan bisa bubble. Pada puncaknya harga ikan lohan bisa Rp 30 juta per ekor beberapa tahun lalu. Demikian juga pohon anthorium, valuasinya dilakukan dengan menghitung berapa lembar jumlah daunnya dan 1 lembar daun nilainya Rp 500,000. Jadi harga sebuah pohon athorium dengan 5 daun adalah Rp 2,500,000. Itu pada titik bubble nya. Pada titik normalnya, seekor ikan lohan paling-paling saat ini Rp 10,000 – Rp 50,000 demikian juga pohon anthorium. Karena dalam investasi emas juga terdapat unsur bubble, istri saya dan teman-teman saya menanyakan apakah pada saat ini emas sudah pada level bubble ataukah belum.

Valuasi emas yang paling mudah adalah dengan membandingkannya dengan kambing. Harga kambing sepanjang sejarah, rata-rata adalah ekivalen dengan 3 gram emas. Pada jaman Romawi, jaman Jesus, jaman nabi Muhammad, ...... sampai jaman modern, nilai tukar kambing terhadap emas kurang lebih 1 ekor kambing ukuran rata-rata = 3 gram emas. Jadi valuasi ini bisa dipakai untuk menentukan murah atau mahalnya emas.

Lima tahun lalu, ketika pertama kali kami menganjurkan untuk membeli emas, harga kambing adalah Rp 500,000 dan harga emas adalah Rp 100,000. Jadi 1 ekor kambing = 5 gram emas. Pada kondisi seperti ini harga kambing mahal terhadap emas. Atau dengan kata lain harga emas murah.

Saat ini, tahun 2008, harga seekor kambing adalah Rp 1,000,000 dan harga emas adalah Rp 260,000 per gram. Atau kira-kira 1 ekor kambing = 4 gram emas. Jadi harga emas masih murah.

Jadi investasi di emas sangatlah mudah. Beli pada saat emas di nilai tukar 1 kambing lebih dari 3 gr emas. Simpan, dan dalam jangka waktu yang lama maka harganya akan naik sehingga 1 ekor kambing dihargai dengan kurang dari 3 gr emas. Bisa saja emas mengalami bubble seperti di tahun awal dekade 80an. Pada saat itu diperkirakan harga kambing hanya 0.5 – 1 gram emas saja.

Mengingat kemungkinan besar akan terjadi bubble dan mania di sektor emas dalam dekade mendatang, kami akan mengajarkan bagaimana seorang professional berinvestasi dan memaksimalkan keuntungan. Kalau harga wajar emas adalah 1 kambing = 3 gram emas, kenapa kita harus menjual emas di level tersebut. Kalau harga emas naik lagi, bagaimana? Bagaimana strategi untuk memperoleh keuntungan yang maksimal dengan resiko kecil.

Kalau harga emas masih di level: 1 ekor kambing harganya lebih mahal dari 3 gram emas, maka saat itu bagus untuk membeli emas.

Kalau harga emas di level: 1 ekor kambing = 3 gram emas, level adalah level netral.

Kalau harga emas di level: 1 ekor kambing perlu emas kurang dari 3 gram kita bisa terapkan sistem hold, ambil untung sebagian dan trailing stop.

Kami biasanya akan melakukan aksi ambil untung sebagian (50%), ketika keuntungan mencapai 100%. Kalau misalnya harga emas mencapai level 1 kambing = 1.5 gr emas, maka 50% dari emas di portfolio diliquidasi. Dan sisanya, yang berupa keuntungan murni dibiarkan terus mengarungi keuntungan yang lebih tinggi. Liquidasi sebesar 50% ini adalah untuk memastikan bahwa kapital kita utuh.

Sisa emas yang tinggal 50% ini tetap dihold dalam portfolio dengan trailing stop. Yang dimaksud dengan trailing stop adalah sebagai berikut. Untuk memudahkannya kita anggap harga kambing tidak berfluktuasi selama setahun (anggap harga Iedul Adha diabaikan). Misalnya trailing stop = 30%. Harga kambing Rp 1,500,000 per ekor. Liquidasi pertama kita pada saat harga emas di Rp 1,000,000 yaitu 1 kambing = 1.5 gr emas. Pada saat ini trailing stop kita adalah 70% dari Rp 1,000,000. Atau Rp 700,000. Artinya jika harga emas turun melampaui Rp 700,000, maka kita akan meliquidasi semua emas kita. Dan permainan selesai.

Tetapi jika kemudian harga emas naik misalnya ke Rp 1,400,000 per gram. Maka trailing stop kita ada di 70% dari 1,400,000 yaitu Rp 980,000. Artinya jika kemudian harga emas turun menembus level Rp 980,000 maka semua emas akan diliquidasi, dan permainan selesai. Jadi trailing stop mengikuti harga emas dan dipatok dari harga tertinggi yang pernah dicapai.

Misalnya ternyata kemudian harga emas naik lagi ke level Rp 2,000,000 per gram kita akan liquidasi lagi 50% dari sisa emas yang ada atau 25% dari investasi mula. Trailing stop juga sudah di naikkan ke Rp 1,400,000. Dan seterusnya.

Singkatnya, liquidasi dilakukan pada keuntungan 100%, 200%, 300% dari nilai wajar emas (1 kambing = 3 gram emas). Trailing stop selalu naik mengikuti harga tertinggi yang pernah dicapai. Tentang trailing stop, angka 30% bisa disesuaikan dengan kemampuan anda menerima resiko. Kami tidak sarankan di bawah 30 karena volatility emas sangat tinggi pada saat bubble. Sehingga kalau terlalu rendah, kita bisa gagal mengikuti rally yang lebih tinggi.


RENUNGAN
Emas pernah mengalami masa bubble, yaitu diawal dekade 80an. Mania emas dipicu oleh pemutusan hubungan dollar dengan emas oleh Nixon pada tahun 1973. Hampir 10 tahun harga emas naik, dan dari ketidak percayaan terhadap US dollar kemudian berubah menjadi mania dan bubble. Bersamaan dengan akhir masa mania emas, ada sebuah lagu yang populer dinyanyikan oleh Bruce Cockburn judulnya If I had a rocket launcher. Lagunya enak didengar dan liriknya juga bagus. Saya anjurkan anda untuk mencoba menikmatinya.

If I Had A Rocket Launcher
Here comes the helicopter, second time today
Everybody scatters and hopes it goes away
How many kids they've murdered only God can say
If I had a rocket launcher...I'd make somebody pay

I don't believe in guarded borders and I don't believe in hate
I don't believe in generals or their stinking torture states
And when I talk with the survivors of things too sickening to relate
If I had a rocket launcher...I would retaliate

On the Rio Lacantun, one hundred thousand wait
To fall down from starvation, or some less humane fate
Cry for guatemala, with a corpse in every gate
If I had a rocket launcher...I would not hesitate

I want to raise every voice, at least I've got to try
Every time I think about it water rises to my eyes.
Situation desperate, echoes of the victims cry
If I had a rocket launcher...Some son of a bitch would die

Lagu yang dirilis di tahun 1983 ini, punya lirik mencerminkan ketidak sukaan terhadap penguasa yang menimbulkan kesengsaraan. Kesengsaraan bukan hanya penyiksaan tetapi juga penipuan, ketidak adilan dan pengekangan. Pajak, inflasi, penetapan nilai jual objek pajak (NJOP), penetapan upah minimum, perlindungan TKW/TKI perlu dipertanyakan. Bea masuk atau pajak eksport, kenapa pajak semacam ini harus ada? Jasa dan andil apa yang pemerintah berikan kepada pelaku ekonomi di bidang import dan eksport barang sehingga ada kita harus membayar? Juga pajak penjualan, apa jasa pemerintah pada bisnis jual beli ini sehingga pemerintah meminta bagian? Kenapa di airport Sukarno Hatta ada jalur khusus TKI? Apa bedanya TKI dengan CEO dan manager Indofood, atau TKI professional Apa karena TKI terpelajar, CEO dan manager Indofood tahu hukum dan terpelajar, sedangkan TKI/TKW-buruh kasar, tidak. Catatan: saya lama menjadi TKI di Saudi dan Malaysia, tetapi kalau pulang tidak pernah lewat jalur itu. Dan petugas tidak berani memaksa saya, karena saya tampak terpelajar. Jadi tidak tahu apa yang ada disana. Tetapi, pada suatu masa Depnaker membuat peraturan bahwa setiap TKI yang cuti pulang, harus lapor ke depnaker dan membayar $25 untuk servis/jasa yang tidak jelas - yaitu memberi ijin TKI berangkat lagi ke Timur Tengah. Teman saya yang punya rate $ 1000 per hari harus kehilangan penghasilan yang $1000 per hari di samping $25. Gila!! memangnya TKI ini budak milik pemerintah?. (Sekarang aturan ini sudah dihapuskan).

Di bidang moneter, dengan ketidak-bijakan inflasi terkontrol nya,..... hey, kenapa nilai uang harus turunkan? Kenapa tidak dipertahankan saja. Kenapa, dalam jangka panjang nilai uang terus turun?

Di EOWI, kita banyak menampilkan data sejarah bahwa pemerintah tidak bisa dipercaya. Apalagi kalau dalam kondisi terjepit. Mereka bisa memberi janji. Kalau ditagih, dikasih janji. Sampai akhirnya kita lupa. Kalau anda tinggal di jalan Ampera, arti Ampera adalah Amanat Penderitaan Rakyat. Ampera ini berkaitan dengan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) yang salah satu adalah turunkan harga. Angkatan 66 yang beberapa tokoh-tokohnya adalah Akbar Tanjung, Kosmas Batubara, mengaku pejuang Ampera dengan Trituranya. Mereka menjadi pejabat penting di pemerintahan selama beberapa dekade. Selama mereka menjabat tarif bus umum naik dari Rp 15 di akhir dekade 60 menjadi Rp 1500, ketika orde reformasi lahir.

Belum lama ini menaikkan harga bensin premium ketika harga minyak berada di kisaran $ 140an. Katanya karena harga minyak mentah naik. Tetapi, ketika harga minyak turun dari $147 ke $65, pemerintah belum menurunkan harga bensin premium.

Pemerintah menetapkan untuk menaikkan tabungan di bank yang dijamin dari Rp 100 juta ke Rp 2 milyar. Alasannya supaya kepercayaan terhadap bank dan rupiah terjaga. Apakah ini pancingan supaya orang memegang rupiah, sehingga bisa digrogoti nilainya dengan inflasinya? Kami memilih tidak percaya pada pemerintah karena sejarah. Oleh sebab itu kami memilih asset yang tidak ada tanda tangan pejabat pemerintah. Salah satunya emas. Harga emas bisa turun dalam waktu dekat ini karena pengaruh proses deleveraging. Bisa juga naik karena faktor inflasi lebih kuat dari deleveraging. Tetapi dampak penciptaan kredit baru untuk mengatasi kebekuan kredit, cepat atau lambat akan berdampak pada nilai uang, nilai tabungan kita. Hati-hati. Selama ekor kambing lebih mahal dari 3 gram emas, kami memilih membeli emas.

Jaga kesehatan, investasi dan tabungan anda baik-baik..... dan terima kasih bagi yang telah mengirimkan email, msm dan telepon serta mendoakan saya supaya cepat sehat.

Jakarta 25 Oktober 2008

2 comments:

eXist said...

wah pak, saya sangat tertarik dengan artikel bapak yang satu ini...
kalau dipikir-pikir, memang saat ini kita butuh untuk memiliki cadangan / investasi kecil yang mudah dicairkan.
salah satunya adalah emas.

kalau saya pikir, emas merupakan barang yang memiliki resiko paling kecil jika kita simpan dalam jangka waktu yang panjang. apalagi disaat krisis seperti ini, harga saham maupun mata uang asing sangat sulit diprediksi nilainya. jadi, untuk saat ini memang emas dan tetap emas-lah yang menjadi primadona serta paling aman untuk diinvestasikan.

terima kasih ya pak atas saran dan masukan yang telah diberikan oleh bapak terhadap wawasan untuk berwiraswasta. terima kasih juga atas pengajaran yang telah bapak berikan pada saat saya kuliah.

semoga bapak tetap sehat selalu...

Subiakto & Vera said...

Iya, terima kasih sama2 untuk komentarnya yah sekedar saling sharing saja. Sukses untuk anda semoga cepat lulus.........